Rabu, 21 September 2016

cerpen: Rahasia Si Sahabat,


Author: Annisa Senja Rucita 
Genre: mystery, comedy
Rate: NC 1th (yaiyala~ blom bisa baca keles)

“Dia pemeran utamanya”
“Bukan! Kamu yakin dialah pemeran utamanya?”
“Iya, saya yakin”
“Tapi dalam kehidupannya bahkan dia tidak dilirik”


Pagi-pagi Sirajuddin sudah mendengar perdebatan antara Wike dan Wahidah di sekertariat himpunan jurusannya. Padahal dia masih mengantuk karena semalaman mengobrol, bernyanyi dan bermain gitar bersama teman-temannya yang sekarangpun masih tertidur.

 “Dek-dek tolong ya jangan berisik, anak saya sedang tidur”

Wike tertawa mendengar ucapan Bambang. Sedikit cerita tentang Sirajuddin, dia lebih akrab disapa Bambang atau Bams. Konon itu adalah julukannya sejak kecil karena ia memiliki tanda lahir di jarinya. Tanda lahir itu berupa tompel sehingga menyerupai batu cincin di jarinya, dalam Bahasa Bugis tanda lahir itu disebut Bamban. Sudah biasa di Sulawesi, orang suka terpeleset lidahnya atau okots jika menyebutkan kata yang berakhiran “n”, seperti kata “bakwan” menjadi “bakwang”. Sebenarnya masih ada okots yang lain, misalnya “uang” menjadi “uan”, “mabuk laut” menjadi “mabut laut”, atau “upload di grup” menjadi “aplot di grut”. Yang paling aneh okots kata “enam” kadang menjadi “enan, kadang kadang pula “enang” *hahaha*
 
“Astaga Bambang… bangun ko! Jam berapa ini? Kuliah kuliah,” Wahidah mengingatkan sambil mengguncang tubuh Bambang yang hendak kembali beranjak tidur.

“Eh eh sentuh-sentuh, yang kemarin saja belum bayar”

“Hahaha, bangun ko… cuci mukamu, sembilan menit lagi jam delapan”

“Haaah, mukhlis, lo lo, sahabat, yoga bangun… waktunya kuliah anak muda!” dengan ekspresi pura-pura panik, Bambang segera mengguncang temannya satu per satu.

Mereka pun akhirnya terbangun setelah berkali-kali dibangunkan oleh Bambang, Wahidah dan Wike.Di ruang kuliah, Yoga mengambil tempat duduk di barisan paling belakang, kemudian duduk disampingnya Laode dan disusul Mukhlis. Bambang duduk di depan Laode. Di samping Bambang ada si sahabatnya.

“Adho, ke sini-sini ko! mengantuk saya,” Muhklis memberi isyarat untuk menutupi dirinya.

“Sahabat, pulpenmu dulu,” Bambang meminjam pulpen pada Adho karena miliknya hilang. Adho mengeluarkan isi tas selempangnya, buku catatan kecil, sepertinya notes dari seminar kit, sebuah pulpen dan pensil. Lalu memberikan pulpennya ke Bambang.

Seisi kelas menyimak pelajaran dengan santai. Ruang kelas yang luas dan peserta mata kuliah yang banyak membuat samar-samar suara diskusi, obrolan bahkan becandaan beberapa forum di sela-sela pelajaran.

“Bambang, kenapa tadi terjadi perang? Perjanjian apa yang di langgar?” tanya Mukhlis serius. “Oh itu terjadi perang ketika negara api menyerang, dan negara air sumurnya tiris. Kemudian datanglah Eng,” Bambang memberikan penjelasan tanpa menoleh ke arah Mukhlis. “Oh, jadi ini semua karena negara api, iyo? Terus kenapa negara air tidak bersekutu dengan negara angin?” balas Mukhlis. “Ndak bisa, nanti kebakaran hutan”

Mereka kembali menyimak pelajaran seolah tidak terjadi apa-apa. Yoga dan Laode hanya tertawa. Meskipun Laode sangat ingin menimpali tetapi dia urung karena mereka harus menyimak mata kuliah ini dengan baik atau mereka akan mengecewakan ibu dosen di depan kelas.

Bosan dengan suasana kelas yang datar, Bambang berbuat usil kepada Adho si sahabatnya dengan cara menarik rambutnya yang gondrong ikal sebahu namun dikuncir dengan karet gelang. “Aaaa… hss,” Adho mengeluh kesakitan. “Diam ko perhatikan ibu Ros di depan!” ia mewanti. Bambang hanya cengengesan dan malah mencolek dagu Adho. Lalu ia kembali menyimak pelajaran. Tapi tidak tahan untuk berbuat usil lagi, dia menarik kumis Adho. Adho yang pura-pura marah mencoret buku catatan Bambang, dan melanjutkan aktivitas belajarnya seolah tidak terjadi apa-apa. Bambang yang telah mendapat balasan akhirnya tertawa dan makin ingin menjahili si sahabatnya itu. Setiap perlakuan Bambang selalu mendapat balasan yang sama dari Adho, sampai akhirnya Adho menyita buku catatan Bambang dan membuangnya ke bawah kursi Bambang. “Hahaha iya iya, ampun sahabat”.

Kelaspun berakhir. Sebelum kembali ke himpunan, Bambang bersama beberapa temannya yang lain pergi ke mushola untuk solat Duhur. Setelah makan siang bersama di kantin, giliran mata kuliah kedua dan disambung yang ketiga.

“Siapa yang mau fotocopy buku ini? Mana uangnya? Sini saya fotocopykan sekalian,” Pia menagih 
teman-teman karena ia yang diberi tanggung jawab memegang modul dari dosen. Beberapa teman mendatanginya dan memberinya uang. Di luar ruang kelas, Adho menghampiri Pia dan memberinya selembar uang lima puluh ribu rupiah. “Tolong fotokopikan untuk saya juga ya,” katanya lirih.

Seperti biasa, usai kuliah mereka kembali berkumpul di himpunan. Ada yang tidur-tiduran, main gitar, menyanyi, dan ada pula yang mendownload anime. Sesekali mereka mendiskusikan pelajaran atau tugas-tugasnya. Untuk organisasi atau program sosial yang sedang mereka jalani seperti Program Hibah Bina Desa (PHBD) biasanya didiskusikan di kantin bersama teman lintas jurusan dan angkatan, bahkan dosen-dosen.

“Aaaa..”

“Eh kenapa ko?” Ali yang juga berada di belakang himpunan menghampiri Adho yang sedang memegang parang dan menisik bambu entah untuk apa. Biasanya mereka menggunakan parang itu untuk membabat tanaman untuk membuka jalan di hutan atau membuat meja, kursi atau mainan tembak-tembakan dari bambu dengan peluru kertas basah di sini. Disusul oleh Syafarat yang melompat keluar lewat jendela himpunan. Ali dan Syarafat yang melihat tangan Adho luka tersayat bambu dengan segera menolongnya. Ali menyuruh Laode untuk mengambil air untuk membersihkan darah di tangan Adho. Karena terburu-buru dan tidak hati-hati, air itu tumpah mengenai celana pendek Adho. Dengan sorot matanya yang tajam, Ali melirik Laode. “Apa? Mau berkelahi? Jangan disini. Tentukan saja tempat dan waktunnya, saya tinggal mengikut,” sahut Laode membalas tatapan Ali. Ali tertawa tapi tetap dengan wajah sinis. “Hey kalian, jangan bawa urusan rumah tangga di sini,” Syarafat bermaksud menghentikan mereka.

“Sorry, Adho. Tenang.., ada celananya Yoga. Eh Yoga... masih ada celanamu disini yang bisa dipinjam?” Laode berusaha bertanggung jawab.

Sayangnya pakaian Yoga yang ada di himpunan sedang dilaundry.

“Tenang.. ndak apa-apa kok. Sudah-sudah”, Adho menenangkan. Setelah tangannya selesai diperban oleh Syarafat, Adho masuk ke himpunan dan mencari-cari sesuatu yang bisa dipakai saat sementara celananya dijemur. Kemudian dia menemukan trashbag hitam sepanjang satu meter dan membawanya keluar himpunan lewat jendela tadi. Dia gunting ujungnya supaya kepalanya bisa masuk, dan ujung samping kanan dan kiri untuk tangannya. Lalu ia melepas celananya dan menjemurnya di atas tanaman. Dia hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya saat tawa teman-teman meledak melihatnya memakai kantong sampah sebagai baju. Bahkan ia tidak malu-malu pergi ke tempat isi ulang air galon bersama Laode. Diapun membawa galon ke Himpunan lewat koridor melewati beberapa ruang Sekretariat jurusan lain. Kalau dipikir-pikir dia seperti memakai kostum drama.

Sampai di depan pintu himpunan Adho disambut oleh Bambang yang kaget dan tertawa terpingkal-pingkal. “Astaga sahabat.. kenapa begitu sekali ko kau gayamu? ndak tega saya,” ucap Bambang sambil mencoba menahan tawa, memegangi perutnya. “Belum pernah kau lihat? dari tadi dia begitu, liat kakinya kotor sekali karena tidak pakai sendal” Yoga menimpali sambil cengengesan menyingkirkan rambut gondrongnya dari wajahnya. Selain Adho, Yoga, Ali, Ari, Laode, Mukhlis dan To’i pun berambut gondrong.

Sedikit cerita tentang mereka. Mereka adalah sebagian mahasiswa jurusan Arkeologi, Universitas Hasanuddin tingkat dua. Sebagian lagi jarang berkumpul karena sibuk dengan organisasinya di luar kampus seperti Syarafat dengan organdanya, Ardhi dengan kegiatan wirausahanya, Muktamar dengan aktivitas dakwahnya atau Riri dengan keluarganya dan Taufik dengan pekerjaannya di Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Kab.Bulukumba. Merekalah kumpulan mahasiswa yang paling banyak, sering ngumpul, kompak, berisik. Semoga tetangga dari sekertariat jurusan lain tidak terganggu dengan aktivitas mereka. Meskipun terkesan berantakan karena rambut mereka yang panjang, baju mereka yang lusuh, celananya robek-robek dan sepatunya rusak, tetapi kharisma merekalah yang konon menarik perhatian mahasiswi jurusan lain. Pakaian mereka yang lusuh dan jarang ganti, bukan berarti tidak pernah dicuci atau tidak ada yang lain, hanya saja mereka selalu memakai pakaian yang itu-itu saja. Itu adalah cara mereka merakyat.

“Basah celanaku Bams, lagi dijemur,” jawab Adho setelah selesai memasang galon. Dilihatnya Bambang menggeleng-gelengkan kepalanya dan masih tetap tertawa. Terbersit ide di kepala Bambang untuk menyibak kantong sampah itu supaya pakaian dalam Adho terlihat, tetapi diurungkan karena banyak teman-teman perempuan di ruang himpunan, belum lagi senior-senior yang juga sama herannya dengan tingkah laku Adho.

“Eh apa saja peralatan bersama untuk kuliah lapangan besok?” tanya Ali kepada teman-teman perempuan yang sedang membicarakan tentang kuliah lapangan di luar Makassar besok sampai dua hari ke depan.

GPS, distometer, skala satu meter, millimeter block, peta, ATK, oh iya jangan lupa bawa galon,” jawab Wilda.

“Oh saya kira jangan lupa bawa kamera,” celetuk Pia.

“Ah itu juga,” jawab Wilda diiringi tawanya bersama teman-teman.

“Bagaimana dengan transportasi dan catering?” tanya Erna selaku bendahara kulap.

“Transportasi fix, siapkan saja uangnya besok, pisahkan uang keberangkatan dan kepulangannya,” jawab Ari.

“Kalau catering tanggung jawab Bambang dan sahabat,” tambah Ali.

Keesokan harinya mereka berangkat disertai dua dosen penanggung jawab mata kuliah Arkeologi Islam, Ibu Rosmawati dan Bapak Anwar, dan dua senior mereka, Kak Afdal dan Kak Masdar yang akan membantu mereka di lapangan. Selama di Jeneponto mereka tinggal di rumah Kak Masdar. Kuliah lapangan diadakan di dua situs Arkeologi yaitu di Kompleks Makam Manjangloe dan di Bataliung atau lebih dikenal Kompleks Makam Raja-Raja Binamu. Pasti kalian berpikir mereka adalah orang-orang angker yang mengunjungi tempat angker, menggali kubur, mencari tulang dan fossil, atau harta karun. Ini hanya kebetulan, karena mereka sedang menjalani mata kuliah Arkeologi Islam jadi mereka melakukan studi lapangan meneliti corak ragam hias makam yang merupakan peninggalan sejarah masa setelah kedatangan Islam.

Setibanya di rumah Kak Masdar mereka menerima briefing untuk kegiatan esok hari dan selama di Jeneponto. 

Saat meneliti, mereka melakukan tugasnya masing-masing. Ada yang mengukur, mencatat, mendeskripsi, menggambar, dan mendokumentasikan data dengan kamera, ada pula yang mencari data dengan cara wawancara. Teriknya matahari di pemakaman yang gersang membuat mereka cepat lapar, apalagi sudah sejak jam 8 mereka meneliti kompleks makam Bataliung yang memiliki makam berjumlah sekitar seribu lebih dan masing-masing memiliki variasi corak ragam hias yang berbeda.

Sekitar pukul 11.30 dosen menghentikan aktivitas mereka dan menyuruhnya ishoma. Kebetulan makanan sudah diantarkan. Serempak mereka berkumpul di tempat rindang dan menikmati makan siangnya. Melihat isi galon yang tinggal seperempat bagian Adho meminta semua botol minum teman-teman dan memenuhinya dengan sisa air dari galon, setelah memastikan teman-temannya punya air minum, Adho membawa galon kosong itu pergi. Bambang yang sedang makan melihat sahabatnya menaiki motor, beranjak dari tempat duduknya sambil tetap membawa makanannya.“Mau kemana sahabat?” tanyanya.

“Isi galon”

“Makan dulu sahabat...”

“Makan mi…” (silahkan makan saja)

“Tunggu dulu sebentar,” Bambang buru-buru menghabiskan makanannya, kemudian mengambil galon itu dan duduk di boncengan motor Adho.

“Hehe ndak menyangkut kah itu makanan?”

“Siapa bilang saya telan, kan masih saya simpan di tembolok”

Begitu mereka kembali, teman-temannya langsung menyambut galon itu dan membukanya karena mereka butuhkan itu bukan hanya untuk minum tetapi cuci tangan dan muka. Bambang pun akhirnya minum dan Adho baru memakan makananya. Selesai makan mereka beristirahat dan sebagian sholat Dhuhur.

“Maaf Pak bisa wawancara sebentar?” Ali datang dengan hape communicator-nya seolah mic menghampiri Bambang yang mengenakan kaca mata hitam sedang duduk-duduk di bawah pohon.

“Oh iye’, bisa dek. Silahkan”

“Siapa nama Bapak?”

“Oh, nama saya Sirajuddin Bams”

“Asli sini Pak?

“Bukan, bukan asli sini”

“Oh, di mana alamat ta’ Pak?”

“Kamu tau ujung jalan ini?

Iye’ tau Pak. Disitu alamat Bapak?

“Bukan, bukan. Dari ujung jalan itu kamu ambil angkot ke terminal, setelah itu ambil bus ke Makassar, dari Makassar ganti bus lagi jurusan Jeneponto. Setelah sampai di terminal ambil angkutan yang menuju ke Kompleks kos-kosan Hartaco. Naik ojek biar cepet dek”

Teman-teman hanya tertawa menyaksikan tingkah mereka.

“Oh, jadi rumah Bapak di Hartaco deket kampus Unhas Makassar ya? Tapi harus melalui Jeneponto dulu untuk ke rumah? Ndakbisa langsung dari Makassar ya Pak?”

“Ndak bisa dek”

“Agak ribet ya Pak”

“Memang begitu dek. Tapi ngomong-ngomong satu pertanyaan saja dari saya dek”

“Apa itu Pak?

“Pertanyaan kamu apa ya? Soalnya..kok dari tadi tanya latar belakang saya terus”

“Oh iya Pak, saya lupa. Pertanyaan saya, boleh saya pinjam kacamata Bapak. Panas sekali disini, sakit mata saya Pak”

“Oh tidak bisaa…”

Waktu ishoma pun habis, mereka harus melanjutkan kegiatan mereka, meninggalkan Bambang dan Ali yang sedang rebutan kacamata.Mereka kembali ke sektor-sektor yang sudah ditentukan. Karena panas terik yang tak tertahankan sebagian teman memakai payung dan laki-lakinya memakai topi. Adho sendiri melepas baju kaos hitamnya untuk dikenakan di kepala seperti petani yang sedang bertani menutupi kepala dan lehernya dari sengatan matahari, tetapi Adho hanya menyisakan matanya yang terlihat, kemudian memakai topi dan jaket. Melihat teman perempuannya tidak memakai payung, Adho memberikan topinya kepada temannya itu.

Di tengah kegiatan pengamatan Mukhlis menghampiri Adho untuk menanyakan sesuatu tetapi tiba-tiba Adho berlari, melompat, salto dan terjatuh di samping Bambang. Dia makin mirip ninja yang sedang melakukan parkour (seni bergerak pindah dari satu tempat ke tempat lain secepat-cepatnya memanfaatkan kemampuan gerak tubuh seefisien mungkin). Teman-teman yang mendengar keributan itu langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Adho terjatuh dan segera berdiri. Sontak mereka tertawa sekaligus heran dengan apa yang dilakukan Adho.

“Kenapa ko?” teriak Mukhlis setelah tawanya.

“Kenapa ko sahabat? oh jadi begitu cara bermainmu? Menyerang aku dari belakang? Kubaca dirimu,” kata Bambang pura-pura ngambek.

Adho hanya menggeleng dan memperhatikan sekitar. Ia segera melanjutkan menggambar. Samar-samar terdengar masih ada teman-teman yang tertawa dan membahas peristiwa barusan.
...
Sampai di rumah mereka semua istirahat sambil ada yang mengantri kamar mandi. Toi dan Ari berinisiatif membuat es kelapa muda, kebetulan ada pohon kelapa di halaman rumah Kak Masdar. Adho yang memanjat tapi karena ada bagian tubuhnya yang sakit karena terjatuh di pemakaman tadi maka dia terjatuh lagi, meskipun teman-teman iba melihat Adho jatuh tetapi mereka tidak dapat menahan tawa mereka. Kemudian Yoga menggantikan Adho memanjat pohon kelapa itu dan menjatuhkan beberapa butir kelapa yang ditunjuk oleh teman-teman yang telah berlindung di bawah. Akhirnya mereka menikmati es kelapa muda itu bersama dosen dan seniornya.

Malamnya, Wike yang sejak kemarin sudah batuk-batuk tidak bisa tidur karena sakitnya bertambah parah. Kepalanya nyeri tidak tertahankan, suhu badannya tinggi. Teman-teman perempuannya menenangkannya karena dia terus menangis. Bambang dan Adho mencari obat untuk Wike. Syarafat memanaskan coto dan menyediakan makanan untuk Wike. Setelah minum obat, Wike baru bisa tidur.
Kegiatan pencarian data pun selesai di hari ke tiga mereka di Jeneponto, berikutnya mereka harus menyusun laporan di Makassar. Hari ke empat adalah saatnya mereka pulang. Sambil menunggu bus datang menjemput, mereka masak bersama karena sudah tidak ada catering. Fatimah, Erna, Wilda dan Bambang bangun pagi-pagi untuk belanja. Saat itu Bambang tidak tega membangunkan Adho, karena sebenarnya Adho punya masalah tidur. Dia sering sulit tidur malam, seperti mencemaskan sesuatu. Biasanya dia akan mengutak-atik laptop semalaman kalau sedang tidak bisa tidur. Walaupun laptopnya kecil dan usang, dia sangat ahli dalam bidang komputer yang termutakhir sekalipun. Tetapi anehnya dia sering mengantuk di kelas seperti orang yang sangat lelah.

Rupanya pasar yang seharusnya didatangi tutup,  jadi mereka harus mencari pasar lain yang jauh. Mereka tiba di rumah terlambat, sebagian teman-teman perempuan langsung menyambut pekerjaan di dapur. Mereka pun memasak sambil mengobrol dan bercanda khas perempuan-perempuan jika sedang berkumpul. Saat sebagian teman-teman laki-laki mengeluh karena kelaparan, Yoga dan Adho masuk ke dapur dan membantu teman-teman perempuan memasak dan menambah ramai suasana masak. Benar saja memasak jadi cepat selesai dengan bantuan tenaga mereka.

Sambil menikmati sarapan mereka yang terlambat, mereka menonton televisi. Kebetulan sedang menayangkan liputan tentang seniman muda berbakat asal Sulawesi Selatan. Gadis itu masih sangat belia saat karyanya sudah menjadi rebutan penikmat seni di balai lelang Cristie’s New York, tempat dilelangnya masterpiece dari maestro lukis dunia. Ternyata dia adalah anak keluarga seniman, mulai dari Ayahnya, Ibunya sampai Kakak dan Adiknya adalah pelukis. Kedua orang tuanya juga gemar menanam dan menata taman, rumahnya sangat besar dan indah. Sampailah pada tayangan foto keluarganya.

“Kenapa foto kakaknya mirip sekali dengan Adho?” Laode tiba-tiba menyeletuk.

Ali melirik Adho dengan mata tajam.Tapi yang dilirik abai, tak mengacuhkannya, malah tampak sangat menikmati makanannya. Bambang pun melirik ke Adho. Teman-teman yang lain sibuk memperhatikan televisi penasaran dengan foto yang dimaksud Laode. Teman-teman pun setuju dengan pendapat Laode, tetapi walaupun diantara teman-teman laki-laki Adho dan Yoga lah yang paling terang warna kulitnya, laki-laki berjas kasual berwarna cokelat di foto itu masih jauh lebih bersih dibandingkan Adho.

“Tapi mana mungkin itu Adho, masa adiknya cantik sekali,” Laode membantah kata-katanya sendiri sambil tertawa meledek Adho. Yang diledek malah ikut tertawa. Laode kembali fokus menonton tv ketika tiba pada tayangan gadis itu diwawancarai tentang lukisan terbaru yang sedang dikerjakan. Gadis itu nampak terkejut, malu-malu dan menutupi lukisannya. Dia menyatakan itu adalah hadiah untuk kakaknya yang diakuinya sangat dekat dengan dirinya. Saat ditanya tentang kenapa ingin memberikan hadiah lukisan itu, gadis itu menjawab karena ia ingin berterimakasih kepada kakaknya yang selalu melindunginya dan percaya padanya. Selanjutnya yang mereka bicarakan adalah pencapaian-pencapaian dan harapan gadis itu kedepannya.

“Ada yang aneh di lukisan itu.Apa kalian sempat lihat apa yang dilukis anak itu?” kata Yoga.

“Apa?” akhirnya Adho bersuara.

“Cuma gambar ga jelas, sama grafity kecil tuh,” kata Laode menanggapi pertanyaan Yoga.

“Kalau tidak salah tulisannya espion,” kata To’i nimbrung.

“Memang espion itu apa?” tanya Laode.

Espion itu Bahasa Perancis, eL-O, artinya mata-mata, saya tau dari film,” Ali memberi jawaban ke Laode dengan nada ketus.

“Jangan-jangan kakaknya ini anak, BIN. Kalau iya, berarti gawat,” kata Yoga.

“Apa lagi itu BIN?” tanya Laode lagi.

“Badan Intelligent Negara. Anak ini membunuh kakaknya sendiri,” kata Ari.

“Bukannya identitas BIN itu harus dirahasiakan ya? Bahkan sama keluarganya sendiri. Cuma dia, orang yang merekrutnya dan Tuhan yang tau. Apa konsekuensinya kalau identitasnya terbongkar?” tanya Mukhlis.

“Tamat,” jawab Taufik singkat.

Bus yang akan dinaiki mereka untuk kembali ke Makassar sudah datang. Satu per satu dari mereka naik dan menata barang bawaan mereka di bus. Setelah memastikan semua teman-temannya naik ke mobil, Bambang memanggil supir agar mereka segera berangkat. Tadinya waktu berangkat Bambang dan Adho naik motor, tetapi ia meminta Taufik dan Ali untuk gantian membawa motor sedangkan ia dan Adho naik bus bersama teman-teman karena ia merasa kurang enak badan. Setibanya di Makassar mereka kembali ke rumah masing-masing. Tidak ada lagi yang berisik di ruang sekertariat himpunan malam ini.

Hari Senin mereka masuk kuliah seperti biasa. Beberapa diantara mereka tidak datang di mata kuliah pertama, mungkin karena kelelahan dan sudah tau bahwa dosen tidak akan masuk hari ini karena kakinya terkilir kemarin. Sampai jam mata kuliah ketiga Adho belum juga datang.
Yoga dan Ali sangat penasaran dimana Adho sehingga mereka memutuskan untuk “mencari” Adho di berbagai sosmed. Mereka meng-sms, nelpon dan chat fbnya. Sayangnya hanya itu yang bisa mereka usahakan. Mereka tidak tau apalagi akun media sosialnya, lebih-lebih dimana rumahnya. Sampai tiga hari kemudian dia tidak juga datang ke kampus. Bambang mulai frustasi karena mengkhawatirkan sahabatnya. Dia bukan tipe orang yang malas datang kuliah. Apalagi mereka sudah lost contact selama empat hari. Dia sudah tidak bisa berpikir hape sahabatnya rusak. Laptop rusak saja bisa diperbaiki, masa hape rusak tidak bisa. Dia selalu berdoa agar sahabatnya baik-baik saja.

Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu dengan Adho lagi.
.
.
Tbc…..

Selasa, 20 September 2016

Cara Sederhana Mencintai Alam Indonesia


Indonesia adalah negeri yang dianugerahi alam indah dengan sumber daya alamnya yang beragam nan berlimpah. Tempat bagi 25% aneka spesies dunia hidup dan berkembang biak. Juga merupakan tempat di mana langit biru, air jernih, udara segar, angin sejuk dan hangatnya sinar mentari berada. Tak heran bangsa asing sering dibuat mabuk kepayang olehnya. Namun tingkat kesadaran peduli lingkungan yang rendah dan berbagai faktor lain, termasuk kepadatan penduduk, membuat alam Indonesia rentan mengalami kerusakan. 

Dewasa ini, penggunaan styrofoam di Indonesia kian marak. Mulai dari restoran sampai ke penjaja makanan di pinggir jalan menggunakan bahan ini untuk membungkus makanan atau minuman mereka. Di antara alasannya yaitu tidak mengetahui bahaya styrofoam, lebih praktis, tampilannya lebih baik dan tidak ada keluhan dari pelanggan. Padahal di balik penggunaan kemasan itu ada bahaya besar yang mengancam baik bagi alam maupun bagi kesehatan.

Data EPA (Enviromental Protection Agency) di tahun 1986 menyebutkan, limbah berbahaya yang dihasilkan dari proses pembuatan Styrofoam sangat banyak. Hal itu menyebabkan EPA mengategorikan proses pembuatan Styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia. Selain itu, proses pembuatan Styrofoam melepaskan 57 zat berbahaya ke udara dengan bau yang tak sedap dan dapat mengganggu pernapasan. Styrofoam  yang sudah jadi berbahaya karena terbuat dari butiran-butiran styrene yang diproses dengan menggunakan benzana (alias benzene). Padahal benzana termasuk zat yang bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tiroid, mengganggu system syaraf sehingga menyebabkan kelelahan, mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan menjadi gemetaran, dan menjadi mudah gelisah. Pada beberapa kasus, benzana bahkan bisa mengakibatkan hilang kesadaran dan kematian. Saat benzana termakan, zat ini akan masuk ke sel-sel darah dan perlahan-lahan akan merusak sumsum tulang belakang. Akibatnya produksi sel darah merah berkurang dan timbulah penyakit anemia. Efek lainnya, system imun akan berkurang sehingga si pengonsumsi mudah terinfeksi bakteri atau virus penyakit. Pada wanita, zat ini berakibat buruk terhadap siklus menstruasi dan mengancam kehamilan. Zat ini juga telah terbukti dapat memicu kanker payudara dan kanker prostat, sehingga beberapa lembaga dunia seperti World Health Organization’s International Agency for Research on Cancer dan EPA (Enviromental Protection Agency) telah mengategorikan Styrofoam sebagai bahan karsinogen (bahan yang dapat menyebabkan kanker).

Plastik kresek berikut kemasan-kemasan plastik lainnya pun tidak mau kalah mendominasi daftar sampah yang sulit didegradasi oleh alam. Menurut Mark Loch, peneliti dari University of Hull, saat ini manusia menghasilkan 300 juta ton sampah plastik setiap tahunnya. World Economic Forum (WEF) bahkan memperingatkan bahwa hampir sepertiga plastik di dunia lolos dari program daur ulang dan menjadi sampah di alam bebas atau menyumbat infrastruktur dan biasanya berakhir di lautan (di samping itu masih banyak dampak negative penggunaan plastik sekali pakai bagi alam maupun kesehatan). Jika hal itu tidak segera ditanggulangi, WEF memprediksikan pada tahun 2050 jumlah sampah di lautan akan lebih banyak dari pada jumlah ikan.

Indonesia bahkan berada pada peringkat ke-dua di dunia sebagai Negara penghasil sampah plastik ke laut terbanyak setelah Tiongkok. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan plastik hasil dari 100 toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Jumlah itu setara dengan area seluas 65,7 hektar atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola. Perlu diingat sejumlah sampah kantong plastik tersebut baru berasal dari 100 toko dari ratusan ribu toko yang ada di Indonesia.

Kepadatan penduduk bisa menjadi faktor pendukung kerusakan lingkungan sekaligus terwujudnya alam Indonesia yang indah, bersih, asri dan lestari dambaan bumi pertiwi. Kuncinya ada pada kesadaran akan peduli lingkungan dan kerelaan untuk mengamalkan penghayatan peduli lingkungan dengan perubahan sikap tertentu. Jika setiap penduduk (yang jumlahnya banyak di Indonesia) memiliki kunci itu, maka akan terwujud alam Indonesia yang indah, bersih, asri dan lestari.

Banyak yang mengaku sebagai Pecinta Alam tapi perilakunya kurang mecerminkan cintanya pada alam. Bukankah cinta berarti peduli, menyayangi dan melindungi? Ataukah saya salah dalam mendefinisikan cinta? Atau mungkin telah terjadi redefinisi terhadap cinta? Berikut adalah beberapa cara sederhana mencintai alam Indonesia.

Pertama, hindari penggunaan Styrofoam saat membeli makanan atau minuman dengan membawa tempat makan atau tempat minum sendiri. Selain membantu mengurangi penggunaan (reduce) styrofoam, kita dapat mencegah resiko kesehatan dari penggunaan styrofoam.

Kedua, gunakan tas belanja pribadi yang bisa digunakan kembali (reuse) yang terbuat dari kain. Kenapa harus berbahan kain? Karena kain lebih kuat dan ramah lingkungan dari pada plastik atau kertas. Jika tidak bisa dihindari penggunaan plastik misalnya untuk membungkus ikan basah gunakan kantong plastik yang ramah lingkungan dan biodegradable, atau gunakan wadah (container, contoh tupperware) kedap air yang bisa digunakan kembali.

Ketiga, gunakan botol minum pribadi yang dapat digunakan kembali (reuse) untuk mengurangi penggunaan (reduce) botol plastik sekali pakai.

Keempat, gunakan barang-barang kemasan isi ulang seperti pulpen isi ulang, sabun, kecap, saus kemasan isi ulang dsb. Menggunakan barang isi ulang dapat mengurangi penggunaan (reduce) plastik minimal 50%.

Kelima, gunakan pensil mekanik. Untuk membatasi penebangan pohon sebagai bahan dasar pensil kayu, kita dapat menggunakan pensil mekanik yang terbuat dari plastik. Walaupun terbuat dari plastik tetapi kita hanya membeli cangkangnya sekali untuk kemudian diisi ulang pensilnya tanpa perlu meraut kayu dan membuangnya.

Keenam, gunakan lap tangan kain. Alih-alih menggunakan tissue yang diproduksi harus dengan menebang pohon, kita bisa beralih pada lap tangan kain yang selalu dapat digunakan kembali.

Terakhir tapi tidak kalah penting adalah kenali negerimu, cintai negerimu. Mari kita mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil (sederhana) dan mulai dari sekarang untuk dambaan bumi pertiwi niscaya.


Annisa Senja Rucita
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unhas


Sabtu, 11 Juni 2016

Tentang Kepengurusan



Beberapa hari yang lalu saat evaluasi kepengurusan, seorang senior mengkritik kepengurusan atau kepemimpinan kami. Mulanya beliau mengungkapkan pandangannya ketika kami berkomiten membuat Despro lebih baik saat pergantian kepengurusan. Beliau melihat potensi besar pada diri-diri kami, beliau pun yakin kami mampu merealisasikan komitmen kami. Mengingat sumber daya kami yang lebih banyak, yang berarti banyak pula spesialisasi bidang keahliannya.

Namun, beberapa bulan kepengurusan kami berjalan, ternyata beberapa proker yang dicanangkan berjalan dengan hasil yang kurang memuaskan. Ditambah ada insiden seorang pengurus yang putus asa mengatur pelaksana program hingga berujung pada pengunduran diri sebagai pengurus. (Tetapi untungnya masalah ini dapat diselesaikan dengan re-shuffle pengurus dan pelaksana, dan pengunduran diri itupun dibatalkan).
Saya sangat berterimakasih dan bersyukur beliau telah mengungkapkan kritik dan pandangannya secara jujur dari hati dan logikanya tentang kepengurusan kami. Karena, itu berarti beliau cukup peduli terhadap Despro dan kepada kami.

Tapi di saat evaluasi itu, terselip rasa dongkol di hati saya yang mungkin masih kekanak-kanakan. Saya teringat-ingat pada sebuah riwayat yang pernah saya baca dari suatu buku. Pada buku itu disebutkan

Dalam sebuah riwayat, Ali bin Abi Thalib r.a. pernah ditanya, "Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai pemimpin, kondisinya tertib. Tetapi saat Usman dan engkau yang menjabat, kondisinya kacau?" Kemudian Ali menjawab, "Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Usman. Sedangkan saat Usman dan aku menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu."

Dari itu saya mendapat banyak pelajaran. Beberapa diantaranya, saat masih menjadi pihak yang dipimpin jadilah yang terbaik dan mudah dipimpin. Ini akan mendukung suksesnya kepemimpinan pada masa kita.
Saat kembali menjadi pihak yang dipimpin (setelah sebelumnya pernah menjadi pemimpin) tidak boleh menyalahkan kepemimpinan setelah saya bila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, dan berlaku sombong atas kepemimpinan saya. Karena bisa jadi kepemimpinan saya (beserta jajaran) sukses karena mereka dan mereka gagal juga karena saya (beserta jajaran) selain karena generasi di bawah mereka.


Annisa Senja Rucita
‪#‎EtoserMakassar2014‬
Mahasiswi tingkat II Fakultas Ilmu Budaya, Unhas

Senin, 21 Desember 2015

Tanya yang Tersisa

Di suatu malam ketika saya turun ke dapur untuk membuat minuman hangat untuk pengantar tidur yang nyaman, saya singgah ke ruang tamu, kemudian ada sesuatu yang menjadi sebab saya membuat tulisan ini. Di sana ada meja kerja Asisten Program Beastudi Etos wilayah Makassar. Tidak bermaksud untuk kurang ajar, saya duduk di kursi di belakang meja tersebut sambil menghabiskan minuman yang saya buat. Di atas meja, saya melihat sebuah buku yang berjudul Dari Gerakan ke Negara karya M. Anis Matta. Nampaknya buku ini tidak sengaja tertinggal. Entah kenapa saya tergerak untuk membaca buku tersebut alih-alih tidur nyaman usai minum susu hangat tadi. Kemudian akan saya ceritakan sebagian isi buku ini yang menyisakan tanya bagi saya.

Di antaranya buku ini memaparkan bahwa apabila kita ingin meringkas tahapan pertumbuhan Islam dalam sejarah, maka kita dapat meringkasnya dalam tiga kata yaitu manusia, negara dan peradaban. Manusia adalah subjeknya, negara adalah institusinya, peradaban adalah karyanya.

Sebagai institusi, bentuk negara selalu berubah mengikuti perubahan struktur sosial dan budaya masyarakat manusia. Suatu negara juga berubah mengikuti perubahan struktur kekuatan antar berbagai negara (dari imperium besar, negara bangsa dan negar dunia atau global state). Struktur etnis dan agama dalam sebuah negara juga bisa tunggal dan majemuk.
Walaupun para pemikir politik Islam mengakui bahwa Khilafah khususnya yang berlaku pada masa Khulafaur Rasyidin adalah bentuk negara yang terbaik, tetapi mereka tidak menafikan bentuk-bentuk lain. Bentuk negara boleh berubah, tetapi fungsinya tetap sama; institusi yang mewadahi penempatan syariat Allah subhana wa ta’alla. Itulah sebabnya bentuk negara dan pemerintahan dalam sejarah Islam telah mengalami berbagai perubahan; mulai dari Khilafah, Kerajaan dan sekarang berbentuk Negara Bangsa dengan sistem yang beragam (monarki, presidensial dan parlementer).

Benarkah Islam tidak memberi batasan tentang bentuk negara? Jika tidak ada batasan pasti tentang bentuk negara yang harus ditaati, mengapa masih ada pergerakan yang memaksakan merombak bentuk negara menjadi bentuk tertentu? Atau yakinkah mereka bentuk tersebut yang terbaik di zaman ini layaknya bentuk Khilafah di zaman Khulafaur Rasyidin? Sesungguhnya pertanyaan ini berasal dari kurangnya wawasan saya, alangkah baiknya jika dijawab dengan baik dan bukan dihujat.

Masih dari buku tersebut juga dinyatakan bahwa tugas peradaban kita saat ini adalah pendekatan jarak; antara Islam dengan muslim dan antara peluang dengan kesempatan untuk merebutnya. Manusia muslim inilah yang harus direkonstruksi agar terbentuk sedemikian rupa dan menjelma menjadi “terjemahan hidup” dari akhlak Al-Qur’an dan As-Sunah. Saya sangat setuju akan hal ini.

Islam dapat dengan mudah memenangkan pertarungan di tataran ideologi dan pemikiran, tetapi pertarungan sebenarnya justru terletak di antara kenyataan; di keramaian jalanan, di kegaduhan pasar, di belantika politik, di panggung budaya, di tengah desingan mesiu, di tengah masyarakat pedalaman pemegang tradisi jahilliyah dan di seluruh pojok bumi.
Manusia muslim harus di rekonstruksi dalam tahapan afiliasi, partisipasi dan memaksimalkan potensi dalam kontribusi.