Jumat, 17 Februari 2017

Let Us Look Around


I don't know exactly why i want to write about this. Maybe its my turning point to be mature. There's something encourage me to realize, but i forgot it :p poor me... -_-
I don't know how to say it nicely, so i read many article related this theme, then i resume it.

Let's look around. Seriously, It speaks for itself. Everything on this earth is a continuous state of evolving, refining, improving, adapting, enhancing.. changing. Appreciate what we have, nothing will be the same. We must learn to let go. Release the stress. Forgive our self. We were never in control, anyway.

Life moves pretty fast. If we don’t stop and look around once in a while, we could miss it. Look around us and look inside our self. How many people settling? People are settling every day into okay relationship, okay jobs and an okay life. Maybe it because okay is comfortable. Okay pays the bill and gives a warm bed at night and allows one to get out to enjoy happy hour. But actually, okay isn’t thrilling, it isn’t passion, it isn’t life changing or unforgettable. Okay is not the reason you go to bed late and wake up early. Okay is not the reason you risk absolutely everything you’ve got just for the smallest chance that something absolutely amazing could happen.

Every living things is going to die. The time will come when we have to say goodbye. We don’t know when. It could be tomorrow or next week. Yet, we live as if it will never happen. Beware with our words. It might be our last words. We would have to find a way to live with that.


Konsep Gender di Masyarakat Sulawesi Selatan



Kata gender telah digunakan di Amerika tahun 1960-an sebagai bentuk perjuangan secara radikal, konservatif, sekuler maupun agama untuk menyuarakan eksistensi perempuan yang kemudian melahirkan kesadaran gender. Menurut Eline Sholwater (1989) sebagaimana dikemukakan Umar bahwa wacana gender mulai berkembang pada tahun 1977, ketika kelompok feminis London meninggalkan isu-isu lama yang disebut dengan patriarchal kemudian menggantinya dengan isu gender. Sejak saat itu konsep gender memasuki bahasan dalam berbagai seminar, diskusi maupun tulisan di seputar perubahan sosial dan pembangunan dunia ketiga. Di Indonesia istilah gender lazim dipergunakan di Kantor Menteri Negara Peranan Wanita dengan ejaan gender yang diartikan sebagai interpertasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin.

Gender berasal dari bahasa latin Genus yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Gender itu sendiri adalah kajian perilaku atau pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang sudah dikonstruksikan atau dibentuk di masyarakat tertentu dan pada masa waktu tertentu pula. Gender ditentukan oleh sosial dan budaya setempat sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan oleh Tuhan secara kodrati.

Setiap makhluk termasuk manusia, pada umumnya hanya memiliki dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan.  Pembagian jenis kelamin ini dikenal di seluruh dunia yang dibarengi dengan tuntutan peran sosial yang kemudian disebut gender. Namun, dalam hal tradisi dan adat-istiadat, tidak semua budaya memiliki pandangan yang sama dalam hal pembagian gender yang hanya dua itu. Ada beberapa masyarakat yang membagi gender dalam tiga, lima atau lebih. Bahkan masyarakat  Muangthai mengenal sekitar 10 gender, yang juga dibarengi dengan tuntutan kefemininan dan kemaskulinan dari masing-masing gender yang berbeda-beda.

Suku Bugis di Sulawesi Selatan membagi masyarakat mereka menjadi 5 jenis gender. Lima jari tangan dari jempol hingga kelingking adalah simbol analogi gender di Sulawesi Selatan. Ibu jari  melambangkan bura’ne (laki-laki), kelingking adalah makunrai (perempuan), telunjuk adalah calabai (waria), jari manis adalah calalai (tomboi), dan jari tengah untuk bissu.

Bura’ne” atau “Oroane”  artinya pria atau lelaki, biasanya jenis kelamin ini dituntut harus maskulin dan mampu menjalin hubungan dengan perempuan.

“Makkunrai” artinya wanita atau perempuan. Mereka kerapkali dituntut untuk menjadi feminin, jatuh cinta dan bersedia menikah dengan lelaki, mempunyai anak dan mengurusnya serta wajib melayani suami.

“Calabai” adalah laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan. Menurut konsep gender Bugis, calabai adalah 'wanita palsu'. Oleh karena itu, orang-orang ini umumnya laki-laki secara fisik tapi mengambil peran seorang perempuan heteroseksual. Mode dan ekspresi gender seorang calabai jelas feminin, tetapi tidak cocok dengan "khas" gender wanita.

“Calalai” adalah perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki, Calalai biasa juga disebut perempuan maskulin/tomboy. Bahasa Makassarnya ‘Balaki’. Kelompok ini mengacu pada orang yang ditugaskan perempuan saat lahir tetapi mengambil peran laki-laki heteroseksual dalam masyarakat Bugis. Calalai individu yang tidak "bertransisi" seperti kebanyakan orang trans gender Barat, calalai hanya berpakaian dan menampilkan diri dalam mode maskulin pria.

 “Bissu”, sebagai gender ke-5 berbeda dengan 4 gender yang lain. Mereka adalah golongan yang disebut ‘bukan lelaki bukan pula perempuan’. Bissu atau kelompok orang orang mistik, dalam budaya Bugis mereka memiliki posisi yang sangat penting. Pada setiap upacara adat Bugis, mereka bertindak sebagai ‘pendeta’ atau ‘pemangku adat’. Mereka masih menjaga teguh tradisi dan peran serta kebiasaan turun temurun nilai-nilai budaya bugis klasik dan diilustrasikan sebagai manusia setengah dewa yang mempunyai kekuatan Supranatural.

Pada masa lalu, bissu dianggap sebagai pranata spiritual paling vital sebagai penyambung dan penghubung antara manusia dan dewa. Hal ini dimungkinkan karena bissu menguasai bahasa langit (Basa Torilangi). Bahkan di beberapa kerajaan, bissu dilindungi oleh raja dan diberikan amanah dalam menjaga arajang (pusaka kerajaan).

Filolog Universitas Hasanuddin, Muhlis Hadrawi yang pernah melakukan penelitian sosial menyatakan bahwa calalai dan calabai diterima di tengah masyarakat. Mereka hidup layaknya seperti orang lain.  Namun, perubahaan perlahan-lahan terjadi. Ketika budaya baru muncul, dalam hal ini agama (Kristen dan Islam) yang menempatkan pembagian gender hanya ada dua, laki-laki dan perempuan secara kodrati. Kemudian akhirnya calalai, calabai dan bissu  menjadi masyarakat kelas dua. (Muhlis Hadrawi)

Bahkan pada periode tertentu, saat pergolakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi Selatan dilaksanakan Operasi Taubat. Orang-orang yang mengakui dirinya di luar dari gender perempuan dan laki-laki akan dikejar. Jika calalai akan diberikan kembali baju perempuan. Begitupun sebaliknya untuk calabai dan bissu, diberikan baju laki-laki.

Dosen Fakutas Imu Budaya Universitas Hasanuddin, Alwi Rachman, mengatakan bahwa  kehidupan sosial di masyarakat Bugis dan Makassar (umumnya Sulawesi Selatan) sejak masa lalu mengenal lima identifikasi gender tersebut. Secara individu per individu sikap saling menghargai itu muncul. Bahkan, karena tingginya toleransi di kalangan kelompok, bissu misalnya mendapatkan tempat penting dalam sebuah ritual. Tapi bagi Alwi, budaya Bugis dan Makassar itu sangat maskulin. Karakter akan keberanian, keteguhan dan keperkasaan selalu menampilkan sosok laki-laki. Namun bukan berarti sisi maskulinitas ini mengabaikan identitas gender lainnya. Di Sulawesi Selatan pada masa kerajaan, tidak sulit ditemukan raja perempuan.

Christian Pelras dalam Manusia Bugis, menuliskan relasi gender masyarakat Bugis begitu cair. Hubungan pernikahan antara laki-laki dan perempuan tidak saling membatasi gerak. Orang Bugis tidak menganggap laki-laki atau perempuan lebih dominan satu sama lain. Pelras, mengutip Sir Stamford Raffles pada 1817 bahwa di Sulawesi Selatan perempuan tampil lebih terhormat dari yang bisa diharapkan dari tingkat kemajuan yang dicapai peradaban Bugis secara umum, dan perempuan tidak mengalami kesulitan hidup yang keras, kemelaratan, atau kerja berat, yang telah menghambat kesuburan kaum mereka di bagian dunia lain. Namun kemudian bagi Pelras, calabai yang dituliskannya sebagai “jenis kelamin ketiga” dan calalai sebagai “jenis kelamin keempat” masing-masing memiliki peran di masyarakat. Tak jarang, calabai akan berperan dalam prosesi ritual tradisional sebagai indo’ botting (ibu pengantin yang berperan dalam menentukan langgeng tidaknya pasangan). 

James Brooke dalam jurnal perjalanannya ke Wajo pada 1840 mengatakan, tentang kebiasaan seorang laki-laki yang berpakaian seperti perempuan, dan perempuan yang berpakaian seperti laki-laki; bukan hanya untuk sementara waktu, tetapi seumur hidup berperilaku seperti jenis kelamin yang mereka tiru itu.

Meskipun perbedaan gender di kalangan orang Bugis memang ada, namun fleksibilitasnya tergambar dalam ungkapan mau’ni na woroane-mua na makkunrai sipa’na, makkunrai-mui; mau’ni makkunraina woroane sipa’na” (meskipun dia laki-laki, jika memiliki sifat keperempuanan, dia adalah perempuan; dan perempuan yang memiliki sifat kelaki-lakian, adalah lelaki).

Rabu, 28 September 2016

Arkeolog (juga) Belajar Annal, tapi jangan Onani!


Agak sensual ya judulnya?  Hayoo… jangan-jangan ada yang terjebak :D
Sebenarnya saya bingung mau kasih judul apa atas tulisan saya kali ini. Inspirasinya datang ketika saya mengikuti diskusi di himpunan. Beberapa kali saya mendengar kata-kata yang orientasinya seks tapi digunakan di dalam himpunan atau bahkan diskusi di BEM. 

Misalnya ketika beberapa waktu lalu saya diskusi di himpunan, saya mengungkapkan penyesalan saya tentang kenapa tidak dari dulu saya mengikuti kegiatan semacam ini (diskusi, rapat, main-main bersama teman-teman dan senior), karena ternyata bermanfaat. 

Dulu saya pikir, ikut rapat di himpunan itu sia-sia. Eh, sebenarnya ada juga yang bisa didapat  sih. Yang saya rasakan dulu, saya dapat pikiran tertekan, capek duduk, kaki pegel, bikin sesak napas (didukung asap rokok yang lebih mengkhawatirkan dari asap kebakaran hutan). Menurut saya Darurat Asap bukan cuma di Riau, tapi di Himpunan juga. Serius!

Tapi kemudian ada senior yang bilang,”Tidak harus juga seperti itu, karena berbeda-beda cara orang belajar. Ada yang suka onani, anal, bisek hahaha”

Karena pernah mendengar dia bicara seperti itu sebelumnya, pun dari senior lain,  saya berpikir pasti kata-kata itu benar-benar ada artinya dalam konteks belajar, berorganisasi atau berlembaga.

Nah, untuk mencari tau artinya, saya surfing di internet, tapi bisa ditebak, yang muncul malah situs-situs yang membahas kata-kata itu dalam konteks lain.

Akhirnya saya bertanya kepada teman-teman dan senior-senior, tertentu, yang cukup dewasa dan bisa serius diajak diskusi.  Saya ga sanggup cerita betapa awkward-nya waktu proses cari tau tentang ini. Jadi cukup kontennya aja ya..

Apa yang saya dapat, 

“Maksudnya onani dalam belajar, kau belajar hanya untuk  dirimu sendiri itu pengetahuan, lalu pergi sombong ke orang-orang yang belum tau hanya supaya kau dibilang cerdas. Tidak ada lawan bicara, diskusi,  dan kontribusi nyata untuk mengembangkan diri. Kita belajar hanya untuk mencapai kepuasan sendiri dan sok sendiri.”

Itu sebagian maksudnya yang masih dalam proses belajar, sebagian lagi ketika hasil dari semua yang kamu dapat dari proses belajarmu hanya berguna untuk dirimu sendiri, tidak punya guna atau pengaruh bagi kebaikan orang lain.

Ada bacaan menarik di blog Peter-Sina berjudul Onani Intelektual. Di sana Peter Garlan Sina mengungkapkan pendapatnya tentang bagaimana membuang onani intelektual. Diantaranya dengan bedah buku dan diskusi yang katanya bagai magnet dalam pendidikannya.

“Seorang manusia yang sedang belajar entah dalam jenjang pendidikan apa saja, haruslah ada kerelaan dan kesadaran yang tulus ikhlas untuk membantu teman-temannya. Karena dengan membantu teman-temannya maka orang tersebut sebenarnya sedang belajar juga dan akan meningkatkan pengetahuannya. Tapi semua itu biasanya hanyalah pada tataran normatif karena pada kenyataannya sifat kikir untuk mendiskusikan atau mensharekan IPTEK sering terjadi dibandingkan kerelaan mensharekan”

“Manfaat dari saling berdiskusi dan melakukan bedah buku sangat menolong kita untuk saling memotivasi sehingga semangat belajar atau menemukan ilmu menjadi begitu indah nan luar biasa. Dan hal ini apabila dilakukan secara berkesinambungan akan sangat bermanfaat sebagai nutrisi segar membangun kebiasaan untuk senantiasa belajar dan belajar selama masih hidup”

Sedangkan annal sendiri diartikan sebagai catatan tahunan yaitu catatan peristiwa pada setiap tahun, biasanya peristiwa-peristiwa penting dalam suatu kerajaan. Arkeolog, sejarawan, berikut serumpunnya bekerja dengan ini.

Jadi kalau dengar kata-kata seperti di atas, jangan buru-buru salah paham ya..
Saatnya balo (bawa logika), perhatikan konteksnya.

Jumat, 23 September 2016

Kekacauan Syar'i

Inspirasi tulisan ini datang dua hari yang lalu, tapi baru bisa saya tuliskan sekarang. Mungkin nanti dalam perjalanannya akan ada perubahan-perubahan untuk memperbaiki isi tulisan. Tulisan saya sudah fokus belum ya?

Lihatlah! Lihat kekacauan yang kalian timbulkan pada hari kami, pada malam dan pagi kami!

Tahukah kalian? Ketika kami diberi tau kalian akan datang, kami mempersiapkan jadwal piket khusus dengan baik jauh-jauh hari. Kami juga segera melengkapi struktur kepengurusan Asrama dan melengkapi atribut-atribut untuk monitoring dan evaluasi.

Apalagi ketika kami diberi tau bahwa jadwal monev dimajukan sesaat sebelum hari-H. Malamnya saya baru tau kalau besok pagi tim monev beastudi etos sudah akan tiba di Asrama Beastudi Etos Makassar sekitar jam 9. Wah mereka pasti ambil penerbangan jam 8 pagi dari Jakarta. Sontak malam itu juga kami langsung membersikan dan mempercantik asrama.Untuk merias keseluruhan asrama sampai kamar masing-masing, ada diantara kami yang baru tidur saat fajar menjelang.

Mengapa?

Karena, tim monev datang dengan serangkaian agenda, utamanya inspeksi asrama. Ada yang khas dari Monev etos, yaitu salah satunya 5R atau versi Jepangnya 5S. Sebenernya saya ngerti, tapi butuh bantuangoogle juga untuk menjelaskannya :D hehehe

R yang pertama yaitu Ringkas atau versi Jepangnya Seiri


Membedakan antara yang diperlukan dan yang tidak diperlukan serta membuang yang tidak diperlukan.

Jadilah kami memenuhi gudang dengan barang-barang yang tidak diperlukan. loh? hehehe
Bukannya langsung membuang, kami hanya menyingkirkan barang-barang yang kira-kira belum diperlukan, mungkin nanti masih berguna.

R yang kedua yaitu Rapi atau versi Jepangnya Seito

Menentukan tata letak barang-barang dengan teratur, sehingga kita selalu menemukan barang yang diperlukan.

Saya dan (saya yakin) teman-teman pun mengorganisir barang-barang kami. Mungkin melalui proses klasifikasi, meletakkannya di organizer, dsb. Alat-alat tulis diletakkan di dekat buku tulis dan buku gambar, disamping bacaan-bacaan. Printer beserta tinta dan kertas dihimpun dalam suatu ruang. Charger beserta alat-alat yang berkabel, "disisir" dan "ditata gaya" kabelnya supaya rapi dan tidak kusut.
Walaupun tidak sampai se-ekstrim tentara yang harus merapikan pakaian dengan cara menatanya dari warna gelap ke terang dan melipat dengan ukuran yang sama persis, kami memastikan susunan pakaian rapi seperti biasa. Kasur bebas dari barang-barang lain (buku, hp, headset dll). Bantal dan guling dirapikan. Sapu, sekop dan tempat sampah diletakkan berdekatan.

R yang ketiga yaitu Resik atau versi Jepangnya Seiso

Membersihkan ruangan dan barang-barang di dalamnya.

Saatnya sapu, kain pel, kemoceng dan lap beradu melawan setiap jengkal lantai, permukaan meja, cermin, kaca lemari dan jendela, serta pajangan-pajangan di asrama. Tidak lupa mengganti kain seprai dan gorden dengan yang bersih kalau sudah kotor.


R yang keempat yaitu Rawat atau versi Jepangnya Seiketsu

Memelihara barang dengan teratur, supaya barang terawat dan lebih awet. Salah satunya dengan standarisasi tata cara melakukan sesuatu. Tim kebersihan membuat rambu-rambu di tempat-tempat tertentu. Misalnya:
"Ketika masuk kamar mandi, nyalakan keran air. Ketika keluar, tutup keran air", ini untuk menjaga ketersediaan air dan mencegah air terbuang percuma.
"Setelah mengepel, cuci kembali kain pel, gantung dalam keadaan bersih", ini untuk menjaga kebersihan dan keawetan kain pel.
"Setelah menggunakan peralatan masak, harap dibersikan dan dirapikan kembali pada tempatnya"

R yang kelima yaitu Rajin atau versi Jepangnya Shitsuke

Prinsip rajin adalah terciptanya kebiasaan menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dicapai (4R sebelumnya). Rajin berarti pengembangan kebiasaan positif. Apa yang sudah baik harus selalu dalam keadaan prima setiap saat. Melakukan sesuatu yang benar sebagai kebiasaan: “Lakukan apa yang harus dilakukan dan jangan melakukan apa yang tidak boleh dilakukan”

Kayaknya jelas ya? dan yang paling dilihat sebagai objek dari unsur assesment ini adalah cucian kotor. Kalau bertumpuk, yaaa berarti tidak rajin mencuci. Malam itu beberapa dari kami mencuci pakaian. Paginya setelah solat subuh, kami mendahulukan mencuci dari aktifitas apapun. hehehe

Walhasil asrama ringkas, rapi, resik, rawat dan kami rajin seketika!
Alhamdulillah...
Bukannya kami tidak biasa melakukannya, hanya saja kali ini harus kami lakukan dengan ekstra. Agenda kegiatan kami jadi kacau, untuk sementara tidak ada rapat, tugas kuliah atau melakukan hobi. Tapi, kekacauan ini syar'i :)

Rabu, 21 September 2016

cerpen: Rahasia Si Sahabat,


Author: Annisa Senja Rucita 
Genre: mystery, comedy
Rate: NC 1th (yaiyala~ blom bisa baca keles)

“Dia pemeran utamanya”
“Bukan! Kamu yakin dialah pemeran utamanya?”
“Iya, saya yakin”
“Tapi dalam kehidupannya bahkan dia tidak dilirik”


Pagi-pagi Sirajuddin sudah mendengar perdebatan antara Wike dan Wahidah di sekertariat himpunan jurusannya. Padahal dia masih mengantuk karena semalaman mengobrol, bernyanyi dan bermain gitar bersama teman-temannya yang sekarangpun masih tertidur.

 “Dek-dek tolong ya jangan berisik, anak saya sedang tidur”

Wike tertawa mendengar ucapan Bambang. Sedikit cerita tentang Sirajuddin, dia lebih akrab disapa Bambang atau Bams. Konon itu adalah julukannya sejak kecil karena ia memiliki tanda lahir di jarinya. Tanda lahir itu berupa tompel sehingga menyerupai batu cincin di jarinya, dalam Bahasa Bugis tanda lahir itu disebut Bamban. Sudah biasa di Sulawesi, orang suka terpeleset lidahnya atau okots jika menyebutkan kata yang berakhiran “n”, seperti kata “bakwan” menjadi “bakwang”. Sebenarnya masih ada okots yang lain, misalnya “uang” menjadi “uan”, “mabuk laut” menjadi “mabut laut”, atau “upload di grup” menjadi “aplot di grut”. Yang paling aneh okots kata “enam” kadang menjadi “enan, kadang kadang pula “enang” *hahaha*
 
“Astaga Bambang… bangun ko! Jam berapa ini? Kuliah kuliah,” Wahidah mengingatkan sambil mengguncang tubuh Bambang yang hendak kembali beranjak tidur.

“Eh eh sentuh-sentuh, yang kemarin saja belum bayar”

“Hahaha, bangun ko… cuci mukamu, sembilan menit lagi jam delapan”

“Haaah, mukhlis, lo lo, sahabat, yoga bangun… waktunya kuliah anak muda!” dengan ekspresi pura-pura panik, Bambang segera mengguncang temannya satu per satu.

Mereka pun akhirnya terbangun setelah berkali-kali dibangunkan oleh Bambang, Wahidah dan Wike.Di ruang kuliah, Yoga mengambil tempat duduk di barisan paling belakang, kemudian duduk disampingnya Laode dan disusul Mukhlis. Bambang duduk di depan Laode. Di samping Bambang ada si sahabatnya.

“Adho, ke sini-sini ko! mengantuk saya,” Muhklis memberi isyarat untuk menutupi dirinya.

“Sahabat, pulpenmu dulu,” Bambang meminjam pulpen pada Adho karena miliknya hilang. Adho mengeluarkan isi tas selempangnya, buku catatan kecil, sepertinya notes dari seminar kit, sebuah pulpen dan pensil. Lalu memberikan pulpennya ke Bambang.

Seisi kelas menyimak pelajaran dengan santai. Ruang kelas yang luas dan peserta mata kuliah yang banyak membuat samar-samar suara diskusi, obrolan bahkan becandaan beberapa forum di sela-sela pelajaran.

“Bambang, kenapa tadi terjadi perang? Perjanjian apa yang di langgar?” tanya Mukhlis serius. “Oh itu terjadi perang ketika negara api menyerang, dan negara air sumurnya tiris. Kemudian datanglah Eng,” Bambang memberikan penjelasan tanpa menoleh ke arah Mukhlis. “Oh, jadi ini semua karena negara api, iyo? Terus kenapa negara air tidak bersekutu dengan negara angin?” balas Mukhlis. “Ndak bisa, nanti kebakaran hutan”

Mereka kembali menyimak pelajaran seolah tidak terjadi apa-apa. Yoga dan Laode hanya tertawa. Meskipun Laode sangat ingin menimpali tetapi dia urung karena mereka harus menyimak mata kuliah ini dengan baik atau mereka akan mengecewakan ibu dosen di depan kelas.

Bosan dengan suasana kelas yang datar, Bambang berbuat usil kepada Adho si sahabatnya dengan cara menarik rambutnya yang gondrong ikal sebahu namun dikuncir dengan karet gelang. “Aaaa… hss,” Adho mengeluh kesakitan. “Diam ko perhatikan ibu Ros di depan!” ia mewanti. Bambang hanya cengengesan dan malah mencolek dagu Adho. Lalu ia kembali menyimak pelajaran. Tapi tidak tahan untuk berbuat usil lagi, dia menarik kumis Adho. Adho yang pura-pura marah mencoret buku catatan Bambang, dan melanjutkan aktivitas belajarnya seolah tidak terjadi apa-apa. Bambang yang telah mendapat balasan akhirnya tertawa dan makin ingin menjahili si sahabatnya itu. Setiap perlakuan Bambang selalu mendapat balasan yang sama dari Adho, sampai akhirnya Adho menyita buku catatan Bambang dan membuangnya ke bawah kursi Bambang. “Hahaha iya iya, ampun sahabat”.

Kelaspun berakhir. Sebelum kembali ke himpunan, Bambang bersama beberapa temannya yang lain pergi ke mushola untuk solat Duhur. Setelah makan siang bersama di kantin, giliran mata kuliah kedua dan disambung yang ketiga.

“Siapa yang mau fotocopy buku ini? Mana uangnya? Sini saya fotocopykan sekalian,” Pia menagih 
teman-teman karena ia yang diberi tanggung jawab memegang modul dari dosen. Beberapa teman mendatanginya dan memberinya uang. Di luar ruang kelas, Adho menghampiri Pia dan memberinya selembar uang lima puluh ribu rupiah. “Tolong fotokopikan untuk saya juga ya,” katanya lirih.

Seperti biasa, usai kuliah mereka kembali berkumpul di himpunan. Ada yang tidur-tiduran, main gitar, menyanyi, dan ada pula yang mendownload anime. Sesekali mereka mendiskusikan pelajaran atau tugas-tugasnya. Untuk organisasi atau program sosial yang sedang mereka jalani seperti Program Hibah Bina Desa (PHBD) biasanya didiskusikan di kantin bersama teman lintas jurusan dan angkatan, bahkan dosen-dosen.

“Aaaa..”

“Eh kenapa ko?” Ali yang juga berada di belakang himpunan menghampiri Adho yang sedang memegang parang dan menisik bambu entah untuk apa. Biasanya mereka menggunakan parang itu untuk membabat tanaman untuk membuka jalan di hutan atau membuat meja, kursi atau mainan tembak-tembakan dari bambu dengan peluru kertas basah di sini. Disusul oleh Syafarat yang melompat keluar lewat jendela himpunan. Ali dan Syarafat yang melihat tangan Adho luka tersayat bambu dengan segera menolongnya. Ali menyuruh Laode untuk mengambil air untuk membersihkan darah di tangan Adho. Karena terburu-buru dan tidak hati-hati, air itu tumpah mengenai celana pendek Adho. Dengan sorot matanya yang tajam, Ali melirik Laode. “Apa? Mau berkelahi? Jangan disini. Tentukan saja tempat dan waktunnya, saya tinggal mengikut,” sahut Laode membalas tatapan Ali. Ali tertawa tapi tetap dengan wajah sinis. “Hey kalian, jangan bawa urusan rumah tangga di sini,” Syarafat bermaksud menghentikan mereka.

“Sorry, Adho. Tenang.., ada celananya Yoga. Eh Yoga... masih ada celanamu disini yang bisa dipinjam?” Laode berusaha bertanggung jawab.

Sayangnya pakaian Yoga yang ada di himpunan sedang dilaundry.

“Tenang.. ndak apa-apa kok. Sudah-sudah”, Adho menenangkan. Setelah tangannya selesai diperban oleh Syarafat, Adho masuk ke himpunan dan mencari-cari sesuatu yang bisa dipakai saat sementara celananya dijemur. Kemudian dia menemukan trashbag hitam sepanjang satu meter dan membawanya keluar himpunan lewat jendela tadi. Dia gunting ujungnya supaya kepalanya bisa masuk, dan ujung samping kanan dan kiri untuk tangannya. Lalu ia melepas celananya dan menjemurnya di atas tanaman. Dia hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya saat tawa teman-teman meledak melihatnya memakai kantong sampah sebagai baju. Bahkan ia tidak malu-malu pergi ke tempat isi ulang air galon bersama Laode. Diapun membawa galon ke Himpunan lewat koridor melewati beberapa ruang Sekretariat jurusan lain. Kalau dipikir-pikir dia seperti memakai kostum drama.

Sampai di depan pintu himpunan Adho disambut oleh Bambang yang kaget dan tertawa terpingkal-pingkal. “Astaga sahabat.. kenapa begitu sekali ko kau gayamu? ndak tega saya,” ucap Bambang sambil mencoba menahan tawa, memegangi perutnya. “Belum pernah kau lihat? dari tadi dia begitu, liat kakinya kotor sekali karena tidak pakai sendal” Yoga menimpali sambil cengengesan menyingkirkan rambut gondrongnya dari wajahnya. Selain Adho, Yoga, Ali, Ari, Laode, Mukhlis dan To’i pun berambut gondrong.

Sedikit cerita tentang mereka. Mereka adalah sebagian mahasiswa jurusan Arkeologi, Universitas Hasanuddin tingkat dua. Sebagian lagi jarang berkumpul karena sibuk dengan organisasinya di luar kampus seperti Syarafat dengan organdanya, Ardhi dengan kegiatan wirausahanya, Muktamar dengan aktivitas dakwahnya atau Riri dengan keluarganya dan Taufik dengan pekerjaannya di Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Kab.Bulukumba. Merekalah kumpulan mahasiswa yang paling banyak, sering ngumpul, kompak, berisik. Semoga tetangga dari sekertariat jurusan lain tidak terganggu dengan aktivitas mereka. Meskipun terkesan berantakan karena rambut mereka yang panjang, baju mereka yang lusuh, celananya robek-robek dan sepatunya rusak, tetapi kharisma merekalah yang konon menarik perhatian mahasiswi jurusan lain. Pakaian mereka yang lusuh dan jarang ganti, bukan berarti tidak pernah dicuci atau tidak ada yang lain, hanya saja mereka selalu memakai pakaian yang itu-itu saja. Itu adalah cara mereka merakyat.

“Basah celanaku Bams, lagi dijemur,” jawab Adho setelah selesai memasang galon. Dilihatnya Bambang menggeleng-gelengkan kepalanya dan masih tetap tertawa. Terbersit ide di kepala Bambang untuk menyibak kantong sampah itu supaya pakaian dalam Adho terlihat, tetapi diurungkan karena banyak teman-teman perempuan di ruang himpunan, belum lagi senior-senior yang juga sama herannya dengan tingkah laku Adho.

“Eh apa saja peralatan bersama untuk kuliah lapangan besok?” tanya Ali kepada teman-teman perempuan yang sedang membicarakan tentang kuliah lapangan di luar Makassar besok sampai dua hari ke depan.

GPS, distometer, skala satu meter, millimeter block, peta, ATK, oh iya jangan lupa bawa galon,” jawab Wilda.

“Oh saya kira jangan lupa bawa kamera,” celetuk Pia.

“Ah itu juga,” jawab Wilda diiringi tawanya bersama teman-teman.

“Bagaimana dengan transportasi dan catering?” tanya Erna selaku bendahara kulap.

“Transportasi fix, siapkan saja uangnya besok, pisahkan uang keberangkatan dan kepulangannya,” jawab Ari.

“Kalau catering tanggung jawab Bambang dan sahabat,” tambah Ali.

Keesokan harinya mereka berangkat disertai dua dosen penanggung jawab mata kuliah Arkeologi Islam, Ibu Rosmawati dan Bapak Anwar, dan dua senior mereka, Kak Afdal dan Kak Masdar yang akan membantu mereka di lapangan. Selama di Jeneponto mereka tinggal di rumah Kak Masdar. Kuliah lapangan diadakan di dua situs Arkeologi yaitu di Kompleks Makam Manjangloe dan di Bataliung atau lebih dikenal Kompleks Makam Raja-Raja Binamu. Pasti kalian berpikir mereka adalah orang-orang angker yang mengunjungi tempat angker, menggali kubur, mencari tulang dan fossil, atau harta karun. Ini hanya kebetulan, karena mereka sedang menjalani mata kuliah Arkeologi Islam jadi mereka melakukan studi lapangan meneliti corak ragam hias makam yang merupakan peninggalan sejarah masa setelah kedatangan Islam.

Setibanya di rumah Kak Masdar mereka menerima briefing untuk kegiatan esok hari dan selama di Jeneponto. 

Saat meneliti, mereka melakukan tugasnya masing-masing. Ada yang mengukur, mencatat, mendeskripsi, menggambar, dan mendokumentasikan data dengan kamera, ada pula yang mencari data dengan cara wawancara. Teriknya matahari di pemakaman yang gersang membuat mereka cepat lapar, apalagi sudah sejak jam 8 mereka meneliti kompleks makam Bataliung yang memiliki makam berjumlah sekitar seribu lebih dan masing-masing memiliki variasi corak ragam hias yang berbeda.

Sekitar pukul 11.30 dosen menghentikan aktivitas mereka dan menyuruhnya ishoma. Kebetulan makanan sudah diantarkan. Serempak mereka berkumpul di tempat rindang dan menikmati makan siangnya. Melihat isi galon yang tinggal seperempat bagian Adho meminta semua botol minum teman-teman dan memenuhinya dengan sisa air dari galon, setelah memastikan teman-temannya punya air minum, Adho membawa galon kosong itu pergi. Bambang yang sedang makan melihat sahabatnya menaiki motor, beranjak dari tempat duduknya sambil tetap membawa makanannya.“Mau kemana sahabat?” tanyanya.

“Isi galon”

“Makan dulu sahabat...”

“Makan mi…” (silahkan makan saja)

“Tunggu dulu sebentar,” Bambang buru-buru menghabiskan makanannya, kemudian mengambil galon itu dan duduk di boncengan motor Adho.

“Hehe ndak menyangkut kah itu makanan?”

“Siapa bilang saya telan, kan masih saya simpan di tembolok”

Begitu mereka kembali, teman-temannya langsung menyambut galon itu dan membukanya karena mereka butuhkan itu bukan hanya untuk minum tetapi cuci tangan dan muka. Bambang pun akhirnya minum dan Adho baru memakan makananya. Selesai makan mereka beristirahat dan sebagian sholat Dhuhur.

“Maaf Pak bisa wawancara sebentar?” Ali datang dengan hape communicator-nya seolah mic menghampiri Bambang yang mengenakan kaca mata hitam sedang duduk-duduk di bawah pohon.

“Oh iye’, bisa dek. Silahkan”

“Siapa nama Bapak?”

“Oh, nama saya Sirajuddin Bams”

“Asli sini Pak?

“Bukan, bukan asli sini”

“Oh, di mana alamat ta’ Pak?”

“Kamu tau ujung jalan ini?

Iye’ tau Pak. Disitu alamat Bapak?

“Bukan, bukan. Dari ujung jalan itu kamu ambil angkot ke terminal, setelah itu ambil bus ke Makassar, dari Makassar ganti bus lagi jurusan Jeneponto. Setelah sampai di terminal ambil angkutan yang menuju ke Kompleks kos-kosan Hartaco. Naik ojek biar cepet dek”

Teman-teman hanya tertawa menyaksikan tingkah mereka.

“Oh, jadi rumah Bapak di Hartaco deket kampus Unhas Makassar ya? Tapi harus melalui Jeneponto dulu untuk ke rumah? Ndakbisa langsung dari Makassar ya Pak?”

“Ndak bisa dek”

“Agak ribet ya Pak”

“Memang begitu dek. Tapi ngomong-ngomong satu pertanyaan saja dari saya dek”

“Apa itu Pak?

“Pertanyaan kamu apa ya? Soalnya..kok dari tadi tanya latar belakang saya terus”

“Oh iya Pak, saya lupa. Pertanyaan saya, boleh saya pinjam kacamata Bapak. Panas sekali disini, sakit mata saya Pak”

“Oh tidak bisaa…”

Waktu ishoma pun habis, mereka harus melanjutkan kegiatan mereka, meninggalkan Bambang dan Ali yang sedang rebutan kacamata.Mereka kembali ke sektor-sektor yang sudah ditentukan. Karena panas terik yang tak tertahankan sebagian teman memakai payung dan laki-lakinya memakai topi. Adho sendiri melepas baju kaos hitamnya untuk dikenakan di kepala seperti petani yang sedang bertani menutupi kepala dan lehernya dari sengatan matahari, tetapi Adho hanya menyisakan matanya yang terlihat, kemudian memakai topi dan jaket. Melihat teman perempuannya tidak memakai payung, Adho memberikan topinya kepada temannya itu.

Di tengah kegiatan pengamatan Mukhlis menghampiri Adho untuk menanyakan sesuatu tetapi tiba-tiba Adho berlari, melompat, salto dan terjatuh di samping Bambang. Dia makin mirip ninja yang sedang melakukan parkour (seni bergerak pindah dari satu tempat ke tempat lain secepat-cepatnya memanfaatkan kemampuan gerak tubuh seefisien mungkin). Teman-teman yang mendengar keributan itu langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Adho terjatuh dan segera berdiri. Sontak mereka tertawa sekaligus heran dengan apa yang dilakukan Adho.

“Kenapa ko?” teriak Mukhlis setelah tawanya.

“Kenapa ko sahabat? oh jadi begitu cara bermainmu? Menyerang aku dari belakang? Kubaca dirimu,” kata Bambang pura-pura ngambek.

Adho hanya menggeleng dan memperhatikan sekitar. Ia segera melanjutkan menggambar. Samar-samar terdengar masih ada teman-teman yang tertawa dan membahas peristiwa barusan.
...
Sampai di rumah mereka semua istirahat sambil ada yang mengantri kamar mandi. Toi dan Ari berinisiatif membuat es kelapa muda, kebetulan ada pohon kelapa di halaman rumah Kak Masdar. Adho yang memanjat tapi karena ada bagian tubuhnya yang sakit karena terjatuh di pemakaman tadi maka dia terjatuh lagi, meskipun teman-teman iba melihat Adho jatuh tetapi mereka tidak dapat menahan tawa mereka. Kemudian Yoga menggantikan Adho memanjat pohon kelapa itu dan menjatuhkan beberapa butir kelapa yang ditunjuk oleh teman-teman yang telah berlindung di bawah. Akhirnya mereka menikmati es kelapa muda itu bersama dosen dan seniornya.

Malamnya, Wike yang sejak kemarin sudah batuk-batuk tidak bisa tidur karena sakitnya bertambah parah. Kepalanya nyeri tidak tertahankan, suhu badannya tinggi. Teman-teman perempuannya menenangkannya karena dia terus menangis. Bambang dan Adho mencari obat untuk Wike. Syarafat memanaskan coto dan menyediakan makanan untuk Wike. Setelah minum obat, Wike baru bisa tidur.
Kegiatan pencarian data pun selesai di hari ke tiga mereka di Jeneponto, berikutnya mereka harus menyusun laporan di Makassar. Hari ke empat adalah saatnya mereka pulang. Sambil menunggu bus datang menjemput, mereka masak bersama karena sudah tidak ada catering. Fatimah, Erna, Wilda dan Bambang bangun pagi-pagi untuk belanja. Saat itu Bambang tidak tega membangunkan Adho, karena sebenarnya Adho punya masalah tidur. Dia sering sulit tidur malam, seperti mencemaskan sesuatu. Biasanya dia akan mengutak-atik laptop semalaman kalau sedang tidak bisa tidur. Walaupun laptopnya kecil dan usang, dia sangat ahli dalam bidang komputer yang termutakhir sekalipun. Tetapi anehnya dia sering mengantuk di kelas seperti orang yang sangat lelah.

Rupanya pasar yang seharusnya didatangi tutup,  jadi mereka harus mencari pasar lain yang jauh. Mereka tiba di rumah terlambat, sebagian teman-teman perempuan langsung menyambut pekerjaan di dapur. Mereka pun memasak sambil mengobrol dan bercanda khas perempuan-perempuan jika sedang berkumpul. Saat sebagian teman-teman laki-laki mengeluh karena kelaparan, Yoga dan Adho masuk ke dapur dan membantu teman-teman perempuan memasak dan menambah ramai suasana masak. Benar saja memasak jadi cepat selesai dengan bantuan tenaga mereka.

Sambil menikmati sarapan mereka yang terlambat, mereka menonton televisi. Kebetulan sedang menayangkan liputan tentang seniman muda berbakat asal Sulawesi Selatan. Gadis itu masih sangat belia saat karyanya sudah menjadi rebutan penikmat seni di balai lelang Cristie’s New York, tempat dilelangnya masterpiece dari maestro lukis dunia. Ternyata dia adalah anak keluarga seniman, mulai dari Ayahnya, Ibunya sampai Kakak dan Adiknya adalah pelukis. Kedua orang tuanya juga gemar menanam dan menata taman, rumahnya sangat besar dan indah. Sampailah pada tayangan foto keluarganya.

“Kenapa foto kakaknya mirip sekali dengan Adho?” Laode tiba-tiba menyeletuk.

Ali melirik Adho dengan mata tajam.Tapi yang dilirik abai, tak mengacuhkannya, malah tampak sangat menikmati makanannya. Bambang pun melirik ke Adho. Teman-teman yang lain sibuk memperhatikan televisi penasaran dengan foto yang dimaksud Laode. Teman-teman pun setuju dengan pendapat Laode, tetapi walaupun diantara teman-teman laki-laki Adho dan Yoga lah yang paling terang warna kulitnya, laki-laki berjas kasual berwarna cokelat di foto itu masih jauh lebih bersih dibandingkan Adho.

“Tapi mana mungkin itu Adho, masa adiknya cantik sekali,” Laode membantah kata-katanya sendiri sambil tertawa meledek Adho. Yang diledek malah ikut tertawa. Laode kembali fokus menonton tv ketika tiba pada tayangan gadis itu diwawancarai tentang lukisan terbaru yang sedang dikerjakan. Gadis itu nampak terkejut, malu-malu dan menutupi lukisannya. Dia menyatakan itu adalah hadiah untuk kakaknya yang diakuinya sangat dekat dengan dirinya. Saat ditanya tentang kenapa ingin memberikan hadiah lukisan itu, gadis itu menjawab karena ia ingin berterimakasih kepada kakaknya yang selalu melindunginya dan percaya padanya. Selanjutnya yang mereka bicarakan adalah pencapaian-pencapaian dan harapan gadis itu kedepannya.

“Ada yang aneh di lukisan itu.Apa kalian sempat lihat apa yang dilukis anak itu?” kata Yoga.

“Apa?” akhirnya Adho bersuara.

“Cuma gambar ga jelas, sama grafity kecil tuh,” kata Laode menanggapi pertanyaan Yoga.

“Kalau tidak salah tulisannya espion,” kata To’i nimbrung.

“Memang espion itu apa?” tanya Laode.

Espion itu Bahasa Perancis, eL-O, artinya mata-mata, saya tau dari film,” Ali memberi jawaban ke Laode dengan nada ketus.

“Jangan-jangan kakaknya ini anak, BIN. Kalau iya, berarti gawat,” kata Yoga.

“Apa lagi itu BIN?” tanya Laode lagi.

“Badan Intelligent Negara. Anak ini membunuh kakaknya sendiri,” kata Ari.

“Bukannya identitas BIN itu harus dirahasiakan ya? Bahkan sama keluarganya sendiri. Cuma dia, orang yang merekrutnya dan Tuhan yang tau. Apa konsekuensinya kalau identitasnya terbongkar?” tanya Mukhlis.

“Tamat,” jawab Taufik singkat.

Bus yang akan dinaiki mereka untuk kembali ke Makassar sudah datang. Satu per satu dari mereka naik dan menata barang bawaan mereka di bus. Setelah memastikan semua teman-temannya naik ke mobil, Bambang memanggil supir agar mereka segera berangkat. Tadinya waktu berangkat Bambang dan Adho naik motor, tetapi ia meminta Taufik dan Ali untuk gantian membawa motor sedangkan ia dan Adho naik bus bersama teman-teman karena ia merasa kurang enak badan. Setibanya di Makassar mereka kembali ke rumah masing-masing. Tidak ada lagi yang berisik di ruang sekertariat himpunan malam ini.

Hari Senin mereka masuk kuliah seperti biasa. Beberapa diantara mereka tidak datang di mata kuliah pertama, mungkin karena kelelahan dan sudah tau bahwa dosen tidak akan masuk hari ini karena kakinya terkilir kemarin. Sampai jam mata kuliah ketiga Adho belum juga datang.
Yoga dan Ali sangat penasaran dimana Adho sehingga mereka memutuskan untuk “mencari” Adho di berbagai sosmed. Mereka meng-sms, nelpon dan chat fbnya. Sayangnya hanya itu yang bisa mereka usahakan. Mereka tidak tau apalagi akun media sosialnya, lebih-lebih dimana rumahnya. Sampai tiga hari kemudian dia tidak juga datang ke kampus. Bambang mulai frustasi karena mengkhawatirkan sahabatnya. Dia bukan tipe orang yang malas datang kuliah. Apalagi mereka sudah lost contact selama empat hari. Dia sudah tidak bisa berpikir hape sahabatnya rusak. Laptop rusak saja bisa diperbaiki, masa hape rusak tidak bisa. Dia selalu berdoa agar sahabatnya baik-baik saja.

Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu dengan Adho lagi.
.
.
Tbc…..